ANAK JUJUR, HARAPAN TERWUJUDNYA NEGERI ADIL DAN MAKMUR.

Anak Jujur, Harapan Terwujudnya Negeri Adil dan Makmur

Bulan-bulan musim ujian. April hingga Juni, anak-anak kita yang duduk di bangku SMU, SMP dan SD bergantian menghadapi ujian. Baik USBN ataupun UKK. Berbicara mengenai ujian, saya teringat sebuah cerita. Tentang anak laki-laki yang begitu tekun mengerjakan soal ulangannya. Bahkan ketika semua teman satu kelasnya sudah selesai, ia tetap tenang. Dari awal hingga selesai, tak sedikit pun ia mencoba menoleh ke bangku sebelah, sekedar mengintip atau berbisik menanyakan jawaban. Ia bukan anak yang populer, bukan pula siswa yang sering dipuji karena memenangi berbagai kompetisi. Sementara itu dua teman sekelasnya yang kerap menjadi juara di berbagai lomba justru bersikap sebaliknya. Bekerja sama saling melihat dan memperlihatkan jawaban saat ujian. Dari kisah di atas kita bisa mengambil pelajaran. Siapakah ‘juara’ yang sesungguhnya? Di tangan siapakah masa depan negeri ini aman dipercayakan?

Jamak sudah orang berkata, kualitas generasi muda menentukan masa depan bangsa. Sering pula kita mendengar slogan ‘Knowledge is power but character is more’. Negeri ini merdeka karena perjuangan, pengorbanan para pahlawan yang berkarakter kuat dan berintegritas tinggi. Kini, saat korupsi semakin menggurita, negeri ini sebetulnya masih punya banyak penjaga. Pejuang anti korupsi di berbagai lini, pemimpin serta pejabat yang jujur- tulus-amanah, kelompok atau individu-individu yang tetap mengutamakan nilai-nilai integritas, bertebaran di berbagai penjuru nusantara. Menjadi tugas kita bersama untuk menambah jumlah penjaga Indonesia. Dari mana memulainya? Dari lingkup terdekat yaitu keluarga.

Di keluarga, anak-anak memulai kehidupannya, mengawali proses belajarnya.

Sesungguhnya, setiap anak terlahir dengan fitrah yang lurus, senantiasa cenderung pada kebaikan. Kita, para orangtua berkewajiban menjaga mereka agar tetap berada dalam koridor kebaikan. Di antaranya adalah dengan menanamkan nilai kejujuran sejak dini.

Sofie Dewayani, dalam buku Agar Anak Jujur (Panduan Menumbuhkan Kejujuran kepada Anak Sejak Dini) yang diterbitkan oleh KPK mengatakan bahwa untuk menanamkan kejujuran adalah dengan menjadi figur teladan bagi anak. Karena penanaman nilai moral pada anak tidak bisa dilakukan hanya melalui perintah dan larangan. Salah satu penyebab anak berlaku tidak jujur adalah reaksi orangtua yang berlebihan saat anak berbuat salah. Seperti marah-marah ataupun memberikan hukuman yang berat. Oleh karena itu, dalam buku tersebut dijelaskan bahwa ketika anak mengaku telah berbuat salah, sebaiknya orangtua memberikan apresiasi atas pengakuannya. Kemudian tunjukkan konsekuensi dari kesalahan yang dilakukan anak tersebut. Dengan demikian anak akan merasa bahwa bersikap jujur itu menyenangkan. Sehingga selanjutnya akan timbul kesadaran dalam dirinya untuk menjadi anak jujur.

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menanamkan nilai-nilai kejujuran secara efektif sebagaimana yang tertera dalam buku Agar Anak Jujur :

1. Orangtua memahami pengetahuan tentang arti dan makna kejujuran serta bagaimana cara yang tepat untuk menanamkan nilai tersebut pada anak.

2. Membangun pola komunikasi yang sehat.

  • Bersikaplah positif ketika berkomunikasi dengan anak. Sebab komunikasi yang positif akan mengembangkan kepercayaan diri anak. Anak yang percaya diri akan menjadi anak yang berkarakter baik.
  • Membangun empati. Jadilah orangtua yang peduli dan menghargai perasaan anak. Anak yang merasa dimengerti dan dipahami akan lebih mudah menghargai orang lain.
  • Mengungkapkan perasaan dengan jujur. Dengan mengetahui perasaan orang lain, anak akan lebih bisa berempati.

3. Pembiasaan pembiasaan baik untuk menanamkan kejujuran

  • meminta maaf, mengakui kesalahan, memaafkan kesalahan teman
  • tidak berbuat curang
  • menepati janji

4. Menanamkan kejujuran melaui cerita. Dalam hal ini dicontohkan melalui buku-buku cerita bergambar serial Kumbi yang diterbitkan oleh KPK. Serial Kumbi adalah buku-buku cerita bergambar yang memuat kisah tentang dampak yang ditimbulkan akibat perilaku tak jujur seperti berbohong atau memakai barang orang lain tanpa izin. Orangtua bisa membacakan atau membaca bersama-sama dengan anak lalu mendiskusikannya. Dengan ilustrasi yang apik, disertai cerita yang jauh dari kesan menggurui, maka pelajaran akan nilai-nilai yang hendak ditanamkan justru akan sampai.

Di paragraf terakhir kesimpulannya, Sofie menegaskan bahwa anak jujur dibesarkan oleh lingkungan yang jujur. Apabila anak jujur, perikehidupan bangsa ini akan membaik. Bangsa yang jujur adalah langkah awal menuju negara yang maju dan sejahtera. Masyarakat adil dan makmur yang merupakan cita-cita para pendiri bangsa, sebagaimana tertulis dalam pembukaan UUD 45 tentunya akan bisa terwujud.

Jangan biarkan kejujuran menjadi sesuatu yang langka di negeri ini. Mari segera bergerak bersama. Pada dasarnya setiap anak ingin menjadi bintang di hati orangtuanya. Bila sejak dini para orangtua menekankan bahwa kejujuran serta keluhuran budi pekerti anak-anaklah yang utama, maka semoga kelak ketika mereka dewasa hal itu pulalah yang mereka jadikan pegangan. Dalam berkarya maupun dalam meraih cita-cita. (AW)

Referensi: Dewayani, Sofie. 2016. Agar Anak Jujur. Panduan Menumbuhkan Kejujuran kepada Anak Sejak Dini. Jakarta : Komisi Pemberantasan Korupsi.

Komentar

Silakan berkomentar