DARI RAHIM OMBAK


“Karya luar biasa dari pengalaman seorang pencinta, pengagum, pelaku, dan pejuang langsung pemberdayaan masyarakat yang hidupnya tergantung pada laut. Sebuah pembelajaran yang harus diketahui tidak saja oleh warga Desa Bungin tapi oleh seluruh warga bangsa dan pemerintahnya yang ingin tetap menyaksikan laut sebagai sumber kekayaan maritim dan kebanggaan bangsa.”
(Sebuah testimoni dari Grace Palayukan, Wakil Ketua Ikatan Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia)Novel “DARI RAHIM OMBAK” ditulis oleh Tison Sahabuddin Bungin. Penulis seakan nyata mengisahkan perjuangan hidupnya untuk melawan pengrusakan terumbu karang karena pengebom ikan di Pulau Bungin.

Pulau Bungin yang menjadi latar novel ini merupakan sebuah pulau terpencil dan salah satu desa yang ada di kecamatan Alas, kabupaten Sumbawa, provinsi Nusa Tenggara Barat. Pulau Bungin dihuni oleh penduduk dari suku Bajo yang berasal dari Sulawesi Selatan.

Novel setebal 388 halaman ini berkisah tentang dua kelompok masyarakat nelayan yang berbeda 360°. Kelompok Wa Abal yang masih tunduk pada kearifan lokal sehingga tidak merusak karang ketika melaut. Kelompok Wa Makaruhun yang hidup bergelimang harta tetapi tidak mempedulikan kerusakan terumbu karang akibat pemboman yang dilakukan.

Katir dan Anjul (anak Wa Abal) sejak kecil ditempa oleh wejangan-wejangan dari orangtuanya tentang penyelamatan terumbu karang dari keganasan pengebom. Hingga menjadi yatimpiatu pun, mereka tetapi setia pada karang.

Namun, cinta telah meluluhlantahkan rasa cinta Katir pada karang. Katir menghianati karang bergabung dengan pengebom ikan dan menikahi gadis pujaannya. Anjul tetap setiap pada karang dan berjuang sendirian melawan deru bom yang siap membunuhnya.

Perjuangan Anjul tidak sia-sia. Di saat usaha konservasi terumbu karang yang begitu luas terasa berat baginya, sebuah cahaya harapan menghampirinya. Adik kesayangannya yang hilang ditelan ombak 20 tahun yang lalu, kembali datang dengan membawa mimpi yang menjadi kenyataan.

Dampa, yang datang sebagai Jurmini, seorang wanita kaya yang disegani dan tangguh menjaga karang melebihi Anjul.

Pulau Bungin yang hampir menjadi gersang, kini hidup kembali dengan kekuatan tangan Jurmini dan Anjul.

Yang terjadi pada Katir dan pengebom lainnya sungguh tragis. Laut yang telah mereka rusak kini merusak mereka sendiri. Kekayaan berlimpah hanya sementara saja, pengebom bahkan banyak yang insaf bergabung dengan Anjul.

Kehancuran para pengebom juga disebabkan kekuatan suara Jurmini di ibu kota negara. Aparat yang tidak jujur dan melegalkan pengeboman ikan telah diringkus. Distribusi bahan peledak pun telah diputus. Tidak ada lagi aparat dan petugas yang bisa mereka suap untuk melancarkan aksi pengebom.

Pulau Bungin kini telah berseri kembali. Pengebom ikan makin lama makin tergerus oleh semangat perubahan masyarakat Pulau Bungin yang ditularkan oleh Anjul dan Jurmini. Kejahatan yang dilakukan pengebom, telah mendapatkan balasan yang setimpal dari Yang Maha Kuasa.

Novel ini sungguh inspiratif dan banyak nilai-nilai yang bisa dipetik oleh pembaca, di antaranya:

(1) Melestarikan terumbu karang adalah tanggung jawab kita semua, sehingga kerusakan terumbu karang pasti merusak masa depan kita semua.

(2) Kasus penyuapan terhadap aparat telah terjadi di berbagai bidang pekerjaan apapun, tanpa terkecuali, untuk melegalkan hal yang ilegal. Oleh karena itu, penanaman nilai antikorupsi harus ditanamkan sejak dini supaya benar-benar mengakar, seperti yang dilakukan oleh Wa Abal dan Ma Laina pada ketiga anaknya, Katir, Anjul, dan Dampa. Mereka mendidik anaknya untuk mencintai karang dengan sungguh-sungguh.

(3) Kebaikan itu walaupun dilakukan secara per lahan, jika dilakukan dengan tekun, pasti akan membuahkan hasil yang luar biasa. Contohnya konservasi terumbu karang yang dilakukan Anjul dari sejengkal karang, dengan ketekunannya berhasil menanam berhektar-hektar luasnya.

(4) Nilai kerja kerja keras dan kesedarhana dalam novel ini amat kental.

(5) Novel ini memiliki kearifan lokal yang baik untuk diteladani, mengingat rendahnya keinginan generasi muda untuk mengetahui nilai budaya masyarakat dan bangsanya.

Akhir kata, semoga semakin banyak novel-novel seperti ini supaya generasi muda menjadi peka pada lingkungan sekitarnya sehingga mampu menegakkan nilai-nilai positif dalam kehidupan. (Paskalina Askalin)/#edisidua, 11 Mei 2017.

Catatan:
Buku DARI RAHIM OMBAK mendapat tiga penghargaan sekaligus dalam program Indonesia Membumi yang diselenggarakan oleh KPK dan IKAPI, 28 September 2016. Tiga penghargaan itu adalah (1) Editor Terbaik, (2) Penulis Terbaik, dan (3) Desainer Buku Terbaik.

Judul : Dari Rahim Ombak
Penulis : Tison Sahabuddin Bungin
Penerbit : Erzatama Karya Abadi
Ukuran : 14,8 x 21 cm
Cover : Art Carton 260 gr; Doff; Emboss;
Perfect Binding Isi : Bookpaper 55 gr;
BW Tebal : 388 Halaman
Harga : Rp 82.000,-

Komentar

Silakan berkomentar