HARGAI ANAK LEBIH DARI SEKADAR ANGKA

“Anak-anak, ayo tukar lembar jawaban kalian dengan teman di seberang bangku,” ucapku memberi instruksi kepada anak-anak kelas 4.

Mereka baru selesai ulangan bahasa Indonesia. Sebenarnya, jarang sekali aku membolehkan anak-anak mengoreksi jawaban ulangan harian. Tapi, sesekali tak mengapa. Biar mereka belajar dan menguji rasa jujur. Aku menuliskan jawaban pada papan tulis dan memberi skor pada masing-masing jawaban. Aku menjawab satu per satu pertanyaan mereka tentang kemungkinan jawaban lain.

Aku berusaha mengedarkan pandangan ke segala arah, mencoba mengawasi kegiatan mereka. Tapi, ada satu yang aneh. Rani! Raut muka Rani terlihat gelisah. Keringat dingin memenuhi wajahnya. Tak biasanya Rani bersikap seperti itu. Rani yang duduk di barisan depan terus-menerus melirik ke samping dan sesekali melihatku.

“Sudah selesai koreksi semuanya?” tanyaku pada semua anak.

“Sudah, Bu,” jawab anak-anak serempak.

“Kalau sudah selesai, tolong beritahu nilai-nilai teman kalian, ya!” balasku lagi.

Aku langsung menyebutkan satu per satu nama mereka. Anak-anak langsung menyebutkan nilai teman-temannya. Setelah selesai memasukkan nilai, aku meminta kertas ulangan dikumpulkan. Saat jam istirahat, aku membaca lagi kertas ulangan mereka.

Ternyata ada sesuatu yang tak beres! Kertas ulangan Rani dan Dina mencurigakan. Ada tulisan yang berbeda dalam satu kertas ulangan. Masih terlihat jawaban Rani yang salah terganti dengan jawaban benar, namun dengan tulisan yang berbeda. Begitu juga dengan kertas ulangan Dina. Jawaban Dina yang salah terganti dengan jawaban benar dengan tulisan tangan Rani. Sebagai guru, aku sudah terbiasa mengenali tulisan satu per satu muridku. Jelas, mereka berbuat curang.

Sepulang sekolah, aku mencoba mengonfirmasi kecurigaanku pada Rani. Namun, Rani menggeleng tak mengakui perbuatannya. Aku terkejut dengan sikapnya. Rani merupakan anak yang pandai, sering menolong guru, sopan, dan tak pernah berbuat usil kepada temannya. Tapi, tunggu… kenapa Rani melakukan kecurangan itu? Padahal nilai-nilai Rani tergolong lumayan, tak jelek, meski bukan nilai tertinggi.

Rasa heranku akan sikap Rani akhirnya terjawab saat penerimaan raport.

“Sayang, kenapa masih ada nilai 7? Nilai delapan juga banyak banget? Harusnya nilai kamu 9 semua seperti Abang Dika,” tegur Ayah Rani sambil menunjukkan raport Rani.

Rani masuk setelah sesi berbicara dengan orangtuanya selesai. Ayahnya sengaja memanggilnya masuk dan menunjukkan nilai-nilanya. Raut wajah Rani seketika berubah. Keringat dingin mulai turun setelah ibunya ikut bicara.

“Iya Dik, coba belajar lagi. Jangan main terus, waktu kelas 1 kan Rani nilainya banyak angka 9, nilai 8 sedikit sekali,” tambah ibunya.

Kedua orangtua Rani masih duduk di depanku. Mereka menegur Rani di depanku. Rani menunduk malu.

“Maaf Ma,” sesal Rani lirih.

Oh… ternyata ini sebabnya. Baiklah! Kedua orangtua Rani mungkin tidak sadar dengan ucapan mereka. Ucapan yang membuat Rani tertekan.

Sikap seperti apa yang sebaiknya dilakukan orangtua?

  1. Berikan apresiasi terhadap usaha yang telah dilakukan anak-anak.

Jangan menuntut dan membandingkan dengan saudara atau bahkan anak tetangga Prestasi di masa lalu harusnya menjadi sumber kebahagiaan, bukan sumber tekanan.

  1. Sampaikan motivasi dan harapan orangtua dengan bijak dan hati-hati.

Jika harapan orangtua terlampau membebani di luar batas kemampuan anak, hal yang fatal akan terjadi. Mereka bisa berbuat curang hanya untuk memperoleh senyum dan pujian dari orangtuanya. Hal ini yang perlu kita waspadai. Berharap dan mendorong prestasi anak boleh, tapi jangan bebani mereka! Anak-anak akan merespons tindakan orang-orang di sekitarnya tanpa berpikir terlalu jauh. Mereka belum bisa menimbang baik dan buruknya setiap tindakan. Kita sebagai orangtualah yang harus terus mengawasi dan dekat dengan anak.

  1. Beri mereka kepercayaan agar terbuka dan mau menyampaikan segala kesulitannya.

Jangan biarkan jarak antara kita dan mereka semakin lebar. Jika itu terjadi, kita akan semakin kepayahan memantau perkembangan mereka. Anak-anak yang terlanjur takut kepada orangtuanya akan lebih sulit mengakui kesalahan. Rasa malu, khawatir mengecewakan orangtua,dan takut kena hukuman yang dialami anak-anak lebih besar daripada keberanian mereka dalam mengungkap kejujuran. Apakah itu yang kita inginkan? Tentu tidak, bukan?

Jangan sampai anak-anak kelak menjadi manusia dewasa yang memilih berbuat curang hanya untuk membela gengsi ataupun meraih prestasi. Beri kepercayaan dan penghargaan. Terima mereka apa adanya, cintai sepenuh hati, hargai, dan apresiasi ketika mereka melakukan kebaikan, dengan tulus dan jujur.

Jadilah sahabat yang siap mendengarkan curahan perasaannya juga cerita-cerita tentang pengalamannya. Dengar, semangati, dan evaluasi peristiwa yang menimpa mereka. Arahkan mereka untuk bersikap lebih baik jika melakukan kesalahan. Jangan lagi hakimi anak-anak hanya dari angka-angka raport sekolah. Anak-anak belajar untuk memahami dunia, berkembang, dan memberi pengaruh positif pada lingkungan di masa depan. Anak-anak tidak bersekolah hanya untuk memenuhi harapan orangtua. Mari belajar menjadi orangtua yang lebih bijak dari hari ke hari. Jangan sampai kita kehilangan senyum mereka hanya untuk satu kesalahan yang tak perlu. Hamasah! (sofa)

Komentar

Silakan berkomentar