LAWAN KORUPSI DENGAN KANTIN KEJUJURAN

Lawan korupsi dengan kantin kejujuran, bisakah? Pertanyaan itu yang akan muncul di benak pembaca ketika melihat kover buku ini. Jawabannya adalah BISA. Kantin kejujuran merupakan langkah nyata mendidik kejujuran di lingkungan kantin kejujuran itu berada.

Kantin kejujuran adalah warung atau toko yang melayani sendiri atau self service. Pembeli mengambil sendiri barang yang dibeli, menaruh uang di kotak tersedia, dan mengambil kembalian sendiri. Secara teori kantin kejujuran tampak mudah dilakukan. Namun ketika dipraktikkan kondisi kantin kejujuran ada yang sampai pada taraf memprihatinkan karena kejujuran belum membudaya secara baik.

Kantin kejujuran bisa diprogramkan di berbagai tempat, seperti di sekolah, di perkantoran, di kelurahan, dan berbagai tempat lain. Dalam buku “Lawan Korupsi dengan Kantin Kejujuran” penulis mengulas beberapa kantin kejujuran di sekolah dan kantin kejujuran di kantor pemerintahan. Ada banyak kantin kejujuran yang sukses hingga bisa mengembangkan berbagai usaha lain yang semakin mendukung budaya kejujuran. Namun, tidak sedikit juga kantin kejujuran yang gulung tikar karena merugi.

Keberhasilan kantin kejujuran dipengaruhi oleh sikap jujur dari pelaku-pelaku di lingkungan kantin kejujuran itu berada. Selain itu, dukungan dari semua pihak juga amat penting. Jika kantin kejujuran berada di lingkungan sekolah, kepala sekolah, guru, dan siswa harus bersatu padu menyukseskan pelaksanaan kantin kejujuran. Lebih lengkapnya, di halaman 54 buku ini, penulis mengulas tentang prinsip mendasar untuk mempersiapkan dan menjalankan kantin kejujuran supaya berjalan dengan baik.

Prinsip-prinsip mendasar itu adalah sosialisasi, kepengurusan dan permodalan, penentuan tempat dan jenis barang, evaluasi rutin, laporan keuangan, dan evaluasi menyeluruh. Di mana pun kantin kejujuran itu berada sebaiknya bisa menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Penerapan prinsip itu perlu supaya penyelenggaraan kantin kejujuran bisa dirasakan hasilnya dan tidak merugikan penyelenggara.

Kantin kejujuran bukan semata-mata mencari keuntungan dan menilai kejujuran orang-orang dalam sebuah lembaga. Dalam prosesnya, kantin kejujuran mendidik banyak nilai positif bagi penyelenggara dan penggunanya.

Di halaman 77 buku ini, penulis mengungkap empat nilai positif yang diperoleh dalam pelaksanaan kantin kejujuran, selain nilai kejujuran. Keempat nilai tersebut adalah kerja sama, tanggung jawab, disiplin, dan kesederhanaan.

Pembaca tentu sepakat jika buku ini mengusung nilai-nilai antikorupsi. Meskipun penulis tidak menyebut seluruh nilai antikorupsi yang meliputi jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil. Namun, penulis sudah menyebutkan tiga nilai yang sesuai nilai antikorupsi.

Di akhir buku ini, penulis memberikan catatan penting, bahwa kantin kejujuran bukan sekadar mendidik seseorang untuk membeli barang di toko dan membayar sesuai harga serta mengambil kembalian yang sesuai. Kantin kejujuran mengajak semua orang untuk membudayakan jujur dalam setiap perbuatan di mana pun berada. Di sekolah, di rumah, di masyarakat, budaya jujur haruslah menjadi budaya tanpa dipaksa. (Paskalina Askalin)/#edisisatu, 4 Mei 2017.

Catatan:
Penulis buku ini mendapat penghargaan sebagai “Penulis Terbaik Buku Nonfiksi Umum” dalam program Indonesia Membumi yang diselenggarakan oleh KPK dan IKAPI, 28 September 2016.

Judul : Lawan Korupsi dengan Kantin Kejujuran
Penulis : Y. Budi U
Penerbit : Nobel Edumedia Jakarta
Tahun : 2016
Tebal : 124 hal
ISBN : 978-602-8844-80-2
Harga : Rp 65.100

Komentar

Silakan berkomentar