PA, MA, JANGAN KORUPSIKAN HATIKU!

PA, MA, JANGAN KORUPSIKAN HATIKU!
“Korupsi itu apa sih sebenarnya?” tanya putri saya sepulang saya mengikuti workshop Indonesia Membumi (Menggagas dan Menerbitkan Buku Melawan Korupsi) yang diselenggarakan di Jakarta tahun lalu. Workshop tersebut merupakan kerjasama KPK dengan Ikapi dalam rangka memperluas promosi pencegahan korupsi melalui kekuatan literasi. Sebagaimana kita ketahui dari berita berbagai media, tindak pidana korupsi di negeri ini semakin memprihatinkan. Baik dari sisi jumlah dengan kasus yang semakin banyak dan semakin besar, dari pusat hingga ke pelosok daerah, pula dari sisi para pelakunya. Belakangan ini berapa kali kita dengar, para pelaku tindak pidana korupsi masih mempunyai hubungan famili. Suami-istri, kakak-adik, bapak/ibu-anak. Benar-benar memprihatinkan.

Anak selalu ingin tahu dan mencontoh perilaku/tindakan yang dilakukan oleh orangtuanya ataupun orang-orang di sekelilingnya. Penasaran dan mencoba peralatan make up ibunya, memakai sepatu dan topi ayah meski kebesaran, meniru kosa kata atau acting para pengisi acara layar kaca dan masih banyak lagi. Begitulah fitrah anak-anak. Mengamati, mencoba, meniru lalu diulang-ulang. Seperti itulah cara mereka belajar.

Kembali ke pertanyaan putri saya. Jujur, saya bingung membahasakan materi yang saya dapatkan dari workshop, ke dalam definisi yang sederhana dan mudah dipahami anak-anak seusianya. Waktu itu, umurnya 7 tahun 4 bulan. Kata ‘korupsi’ dan KPK sebetulnya bukan hal yang baru didengarnya saat itu. Karena ia sudah kerap mendengar dan menemukannya dari televisi, koran, majalah meski sepintas lalu. Tapi demi melihat buku-buku dan CD yang saya bawa, ia tergerak ingin tahu lebih jauh. Saya tidak langsung menjawab pertanyaannya namun balik bertanya mencoba mengajaknya berpikir. Kami memang biasa mengobrol. Tentang kejadian sehari-hari, apa yang dirasakannya, pelajaran di sekolah hingga fenomena sosial yang terjadi di sekitar. Biasanya ia yang mulai bercerita atau bertanya.

Sayangnya saya lupa detail perbincangan kami, hanya kesimpulannya saja yang masih saya ingat.

“Kalau gitu, aku mau jadi istri presiden nanti,” katanya sungguh-sungguh.

“Mengapa?”

“Biar aku bisa ikut mengatur yang nakal-nakal itu.”

“Nggak sekalian aja jadi presiden?”

“Tak nak! Presiden capek sangat,” jawabnya cepat dengan logat karakter dalam serial yang sangat disukainya.

Saya tertawa, sambil dalam hati berdoa. Semoga ia tumbuh menjadi anak yang senantiasa berusaha berada di jalan yang lurus, berani bersikap dan mampu membedakan yang benar dan salah.

Tentang doa saya tersebut, sungguh saya merasakan benar bahwa upaya untuk mewujudkannya bukan hal yang mudah. Meski tak mudah, namun banyak sudah contoh sosok-sosok yang berkarakter kuat, berkepribadian memikat. Jadi sebenarnya sangat bisa diusahakan dengan tetap bersandar pada-Nya sebagai Yang Memiliki jiwa-jiwa.

Mengapa seseorang bisa melakukan tindak pidana korupsi?

Apa yang bisa kita lakukan agar anak-anak kita menjadi generasi yang sangat antikorupsi?

Dua pertanyaan tersebut, sering saya tanyakan kepada teman-teman saat berdiskusi ataupun sekedar berbincang-bincang ringan. Sementara ini, jawaban yang saya dapatkan semuanya mengerucut pada satu hal yaitu KARAKTER. Ada yang luput dan terlupa memang, sepertinya. Sehingga tampak seperti lubang besar yang menganga yang harus segera ditambal bersama-sama. Sebagian, dan banyak orangtua yang sudah menyadari hal ini. Bergerak secara pribadi maupun kelompok menaruh perhatian yang sangat besar, fokus dan konsisten pada pembangunan karakter anak-anaknya juga anak-anak di sekitarnya. Sudah bukan zamannya lagi, mendorong anak-anak untuk pintar secara akademis saja namun luput memberikan teladan dan pembiasaan hal-hal baik secara terus menerus tanpa putus. Memacu anak-anak untuk berkompetisi namun lupa menanamkan rasa peduli dan empati. Lupa mengingatkan bahwa sejatinya manusia adalah makhluk sosial, perlu saling mengenal, tolong-menolong dan bekerja sama dalam kebaikan, untuk hidup yang lebih baik.

Gerakan antikorupsi sebetulnya mempunyai kaitan yang sangat erat dengan pendidikan, pengasuhan anak serta peran keayahbundaan. Sebagaimana kita ketahui bahwa nilai-nilai antikorupsi yang dirangkum dalam ‘9 nilai integritas’ juga merupakan nilai-nilai karakter positif dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Selain itu, masalah korupsi dan pendidikan anak sejatinya sama-sama bicara tentang hak dan kewajiban. Di setiap perilaku ataupun tindak pidana korupsi, ada hak yang terampas, ada kewajiban yang tidak ditunaikan sehingga menimbulkan kekacauan. Dalam pendidikan anak pun demikian. Jika orangtua tidak menunaikan kewajiban serta memenuhi hak anak, maka akan ada masalah yang muncul. Cepat atau lambat. Sebetulnya semua orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. Namun seringkali, pengalaman serta ketidaktahuan membuatnya kurang tepat dalam menunaikan kewajiban dan memenuhi hak-hak anak (ada hak anak yang terkorupsi). Lalu apa sajakah yang menjadi hak anak dalam proses tumbuh kembang mereka?

Pemenuhan kebutuhan dasar anak pada awal tumbuh kembanganya berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak pada tahap selanjutnya. Kebutuhan dasar anak secara umum dibagi menjadi tiga yaitu asuh, asih dan asah. Ketiga hal tersebut sebetulnya bukanlah hal yang baru karena sudah sering dibahas di seminar-seminar keayahbundaan juga ditulis dalam berbagai artikel dan buku. Pada kesempatan kali ini saya hanya ingin mengingatkan saja. Dokter Nia Kania SpA., Mkes dalam makalah seminarnya yang berjudul ‘Stimulasi Tumbuh Kembang Anak untuk Mencapai Tumbuh Kembang yang Optimal’ menjelaskan:

Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang secara umum dibagi menjadi tiga yaitu :

1. Kebutuhan fisik-biomedis (Asuh)
a. Pangan/gizi
b. Perawatan kesehatan dasar
c. Pemukiman layak
d. Kebersihan perseorangan, sanitasi lingkungan
e. Kesegaran jasmani, rekreasi

2. Kebutuhan emosi/kasih sayang (Asih)
Kasih sayang terutama dari orangtua akan menumbuhkn ikatan yang erat dan kepercayaan dasar untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik, mental atau psikososial.

3. Kebutuhan akan stimulasi mental (Asah)
Stimulasi mental mengembangkan kecerdasan, kemandirian, kreativitas, gama, kepribadian, moral-etika, produktivitas dan sebagainya.

Anak yang mendapat Asuh, Asih dan Asah yang memadai akan mengalami tumbuh kembang yang optimal sesuai dengan potensi genetik yang dimilikinya. Demikian cuplikan materi dari dr. Nia Kania SpA., Mkes, sebagai pengingat untuk kita semua agar senantiasa dapat berusaha memenuhi hak anak secara proporsional.

Salam bahagia, untuk hari esok yang lebih baik. (AW) #edisidua 14 Mei 2017.[]

Referensi :
Makalah ‘Stimulasi Tumbuh Kembang Anak untuk Mencapai Tumbuh Kembang yang Optimal’ oleh dr. Nia Kania SpA., Mkes yang disampaikan pada seminar “Stimulasi Tumbuh Kembang Anak” Bandung, 11 Maret 2006.

Komentar

Silakan berkomentar