SAYA, PEREMPUAN ANTIKORUPSI

SAYA, PEREMPUAN ANTIKORUPSIPerempuan Indonesia, sudahkah dalam diri Anda terbersit pernyataan tersebut atau hanya menganggapnya lalu saja?

Ternyata, selidik punya selidik, ungkapan itu bukan hanya sebuah pernyataan, melainkan sudah menjadi gerakan yang lahir atas sebuah keprihatinan. Keprihatinan akan rendahnya kepedulian orang tua untuk mengajarkan nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari kepada anak-anaknya. Contoh sederhana, mencontek, memanipulasi jawaban ujian, atau menyerobot antrian. Fakta yang menakutkan adalah ketika perilaku yang dianggap biasa itu menjadi evolusi koruptif yang akan membudaya dan mengakar.

Fakta tersebut memberikan kesempatan untuk menggerakan pencegahan korupsi melalui perempuan. Hasil inilah yang kemudian menjadi landasan kuat untuk melahirkan gerakan Saya, Perempuan Anti-Korupsi (SPAK).

Perempuan dengan perannya sebagai ibu atau sebagai profesional–dengan karakternya yang khas untuk melahirkan, mengembangkan, memelihara dan berbagi, serta kebutuhan berkumpul yang besar–memiliki kesempatan sosialisasi yang lebih banyak dalam masyarakat, seperti dalam pengajian, arisan, pertemuan orang tua di sekolah, dan kegiatan bisnis lainnya.

Gerakan yang diluncurkan pada 22 April 2014 ini secara umum merupakan gerakan antikorupsi dengan perempuan dari berbagai lapisan masyatakat sebagai tokoh penggeraknya. Gerakan ini dibangun dengan satu keyakinan bahwa perempuan bisa turut ambil bagian dalam pencegahan korupsi. Fokus gerakannya adalah pada pengembangan budaya baru, yaitu budaya antikorupsi.

Kegiatan utamanya adalah pelatihan untuk fasilitator atau para calon agen SPAK dan penyebaran pengetahuan antikorupsi (sosialisasi) yang dilakukan oleh para agen. Edukasi antikorupsi ke masyarakat dilakukan menyeluruh, mulai dari anak-anak, remaja dan dewasa, laki laki dan perempuan melalui alat yang dikembangkan oleh AIPJ (Australia Indonesia Partnership in Justice) dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) berupa boardgame, buku, dan media audio-visual.

Saat ini SPAK telah memiliki lebih dari 494 orang fasilitator. Mereka biasa disebut sebagai Agen SPAK. Mereka telah mengikuti ToT fasilitator SPAK yang dilangsungkan di 10 kota, yaitu Jakarta, Mataram, Makassar, Pare-pare, Kupang, Surabaya, Bogor, Bandung, Jogjakarta dan Malang. Agennya pun saat ini sudah tersebar di seluruh Indonesia.

Menurut Ibu Diana, Korwil SPAK Cimahi yang menolak bocoran soal dan semua jenis manipulasi di mana pun demi integritas, SPAK terus berupaya melakukan edukasi antikorupsi kepada ibu-ibu di lingkungan masing-masing, seperti majelis taklim, sekolah, instansi pemerintah, dan masyarakat umum (khususnya melalui pameran).

Kementerian Agama adalah salah satu instansi pemerintah yang sangat mendukung dan aktif melakukan sosialisasi SPAK di lingkungannya. Tambahnya, literasi antikorupsi sangat dibutuhkan untuk membantu membangun budaya dan sikap perilaku integritas. Harapannya, perlu banyak ragam informasi antikorupsi yang tidak hanya mudah dibaca, tetapi juga mampu menggugah kesadaran perilaku jujur dan berintegritas. Mulai dari diri sendiri dan dari keluarga kecil kita.

Harapannya SPAK terus maju dan berhasil membangun budaya baru, yaitu budaya antikorupsi sekaligus dapat menjadi ruang bagi perempuan untuk menjadi inspirasi perubahan. Saya, Perempuan Antikorupsi, Kekuatan Perempuan Inspirasi Perubahan. (ZR), #edisiempat 23 Mei 2017.

Komentar

Silakan berkomentar