TITIPAN ITU BERNAMA ANAK.

TITIPAN ITU BERNAMA ANAK.

Bertahun-tahun menanti kehadiran buah hati. Saat semua harapan terwujud, buah hati hadir menceriakan rumah-rumah kita, memberi kebahagiaan dan meringankan gerak langkah kita untuk hidup yang lebih berarti. Ada orangtua yang begitu mendambakan buah hati yang tak kunjung datang. Ada pula orangtua yang mendapatkan buah hati dengan mudah. Tentunya semua itu tak lepas dari takdir dan ketentuan Tuhan kita. Buah hati atau anak adalah titipan Tuhan yang bersih, dan kitalah yang berperan memberikan warna dalam kehidupan anak-anak kita, lingkungan dan tempat-tempat untuk mereka agar dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya. Agar bisa mengikuti alur cerita hidup dan melakukan peran yang baik dari setiap takdir yang Tuhan berikan.

Masa kanak-kanak adalah waktu terpenting yang akan membekas dalam ingatan seseorang. Dalam buku Raising Children at Promise, Dr. Timothy S. Stuart, 2005, dikatakan bahwa kita harus berhati-hati bila menganggap apa saja kemudahan dan keamanan dengan segala fasilitas yang diberikan pada anak-anak, kita anggap sebagai satu hal yang terbaik untuk mereka. Padahal, kemudahan-kemudahan tersebut akan memimpin anak-anak kita pada kesuksesannya yang rapuh bila tanpa kesulitan hidup.

Ada sebuah contoh nyata dari seorang anak SD kelas 4. Ia memiliki kemampuan yang lambat dalam penyerapan materi pelajaran. Seolah-olah daya nalarnya terhalang oleh sebuah dinding besar yang membuatnya hadir sebagai murid yang lambat dalam segala hal. Bukan hanya itu, ia pun minim dalam hal tanggung jawab dan kemandirian. Tak jarang ia datang ke sekolah dalam keadaan digendong oleh pengasuhnya. Begitu juga tas dan foldernya yang dibawa serta oleh pengasuhnya. Begitu besar peran pengasuh dalam memperlambat proses kemandirian anak tersebut.

Setelah ditelusuri dari sisi keluarga, anak itu terlahir dalam keluarga yang serba berkecukupan. Kedua orangtuanya adalah orang-orang yang super sibuk dalam urusan pekerjaan. Tugas pengasuhan dan pendidikan yang utama pun beralih pada beberapa pengasuh yang dibayar untuk melayani semua kebutuhan anaknya. Segala fasilitas di rumahnya tersedia, apa pun keinginan anak itu selalu terpenuhi dari segi materi. Bila ditanya soal film-film terbaru ia tahu. Soal musik-musik barat yang lagi hits dan games digital yang bervariasi ia kuasai. Dikemudian hari anak itu tumbuh menjadi anak yang manja. Segala hiburan dan semua kemudahan-kemudahan itu ia dapatkan. Namun di sekolah jauh berbeda dari apa yang didapatkan di rumah. Ketika anak itu harus terbiasa dengan kemandirian dalam kegiatan belajar dan bertanggungjawab terhadap tugas, ia tidak mampu. Kerap kali ia menangis atau marah-marah saat tak bisa menyelesaikan tugasnya. Tiap evaluasi pengajaran diadakan, ia mendapatkan nilai yang jauh di bawah rata-rata dan harus masuk ke dalam kelas remedial. Orangtuanya pun dipanggil dan diajak mencarikan solusi atas keterlambatan perkembangan anaknya. Satu hal yang mengejutkan adalah jawaban dari orangtua tersebut yang mengatakan bahwa anak-anak itu masanya bermain dan bersenang-senang. Ia tidak mau membebani anaknya dengan pelajaran. Waktunya belajar itu baginya hanya di sekolah, dan di rumah adalah waktunya untuk bersenang-senang dan bermain. Karena itulah semua kesenangan dan keinginan anaknya akan selalu dituruti.

Cara berpikir yang menyedihkan yang menjadi benteng besar bagi perkembangan potensi terbaik anaknya. Tak ada adversity, kesulitan dan pencobaan yang membentuk pertumbuhan. Perlakuan orangtua yang demikian hanya akan membuat anak-anak mudah depresi dan stress. Ketika anak menghadapi permasalahan dalam hidupnya, ia akan mengobati luka hatinya dengan narkoba, mencuri, bahkan bunuh diri. Semua itu adalah akibat yang bisa terjadi dari pilihan pola asuh yang kurang tepat dari orangtua. Warna-warna hitam yang justru digoreskan pada jiwa-jiwa anak-anak hingga mereka memiliki mentalitas dan daya juangnya yang rapuh.

Tak ada trust dari orangtua bagi perkembangan anaknya. Tidak ada rintangan dan ketekunan yang akan mendidik anak itu untuk dapatsurvive dalam kehidupannya kelak. Adakah kesuksesan yang dicapai tanpa ketekunan? Anak-anak yang sukses adalah mereka yang bisa bertanggung jawab atas tindakan, kata-kata, dan tingkah laku mereka dengan benar. Pembiasaan sikap yang bertanggung jawab yang kelak akan mencegahnya dari berbuat korupsi.

Dalam buku Raising Children at Promise juga dikatakan bahwa anak-anak pada dasarnya belum memahami manfaat dari suatu awal yang baru sampai mereka bisa membangun tanggung jawab pribadinya. Karena itu orangtua yang berperan dalam perkembangan mereka untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab sampai pada titik dimana anak-anak itu sendiri yang ingin melakukan hal-hal yang benar dan berani mengakui kesalahannya.

Bila kita menjadi kurir yang dititipkan atasan untuk mengantarkan barang titipan. Maka kurir yang sukses adalah ia yang bertanggung jawab mengantarkan barang dengan tepat tanpa cacat. Anak-anak kita bukanlah barang, mereka juga bukan hewan yang hanya dipelihara, diberikan makanan dan tempat tinggal sebagai kebutuhan utamanya. Mereka manusia lebih dari itu, titipan yang harus dijaga tumbuh kembangnya, titipan yang Tuhan berikan pada kita untuk diantarkan menuju kesuksesannya, dan titipan yang lebih berharga dari apa pun itu bernama anak. (Irma Nurmala)

Referensi:
Dr. Timothy S. Stuart, 2005. Raising Children at Promise. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer.

Komentar

Silakan berkomentar