Connect with us

Headlines

Nafsu Besar Tenaga Kurang. Sampai Kapan Jatah PI Riau Berakhir Kempunan ?

Published

on

.

Dari hasil kunjungan Komisi XII DPR RI ke Riau pada (23/01/26), nampaknya anggota dewan agak terkejut badan, pasalnya untuk semester pertama ini dapat di pastikan Pertamina Hulu Rokan (PHR) bakal tekor. Yang lebih mengejutkan lagi jika dibandingkan pada saat diserahkan oleh Chevron jumlah sumur 12.000 dengan jumlah produksi 135 barel day.

Bahkan Pak Menteri ESDM Bahlil dalam paparannya bersama Komisi XII DPR di komplek gedung kura – kura Senayan pada (22/1/2026) dengan terang menyampaikan, bahwa ledakan pipa gas tanam milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) di Riau menyebabkan hilangnya produksi minyak di sumur Rokan sekitar 2 juta barel.

Kalaulah Yong Dollah diundang ke Senayan tentulah beliau akan melengkapi penderitaan itu dengan menyakap bahwa sekarang jumlah sumur tersisa hanya 1.380 sumur, dengan produksi hanya naik 20 ribu barel per day. Jadi apa yang disampaikan PHR terkait penemuan sumur baru dengan jumlah yang sangat mengembirakan seolah membuat PHR berprestasi luar biasa. Padahal Nol.

Sayapun coba berhitung seperti cara Yong Dollah berhitung sebagaimana yang diajarkan waktu saya dibangku SD. Jika dibandingkan, 12.000 sumur lama dengan hasil 160 barel day, sementara 13.800 sumur baru dengan hasil 155 barel day. Penambahannya 20.000 barel per day. Kasarnya jumlah sumur bertambah 1.380 lubang. Lebih kurang cuma nambah 1 barel 1 lubang.

Entahlah, apakah ini betul atau tak betul, hanya dio yang tau, kito orang Riau ini ngangguk sajalah. Lebih kurang sama dengan kasus PT BSP kemarin, lebih mahal pulak mengangkat minyak daripada ongkos produksi. Macam sengaja dibuat rugi, inilah hebatnya perusahaan lokal dibandingkan perusahaan asing.

Sayepun teringat akan kisah Pertamina yang merugi, sementara disisi lain pertamini yang jual minyak dipinggir jalan hanya bermodalkan botol air mineral tak pernah dengar istilah merugi. Apa mungkin pejabat PHR kurang minum obat anti demam ?! maka Pak Menteri pun akhirnya mengungkapkan bahwa pihaknya akan segera mengeluarkan fatwa dengan memberikan sanksi kepada pejabat yang ada di ESDM dan di BUMN terkait.

Jadi Pak Bahlil, kata orang tua – tua dulu pada zaman Chevron yang mengelola minyak, orang Riau justru banyak mendapat banyak berkah dari berbagai pekerjaan, ” Alhamdulillah dapat kueh kecik, berasap jugolah dapur anak pun dapat pegi kesekolah. ” Sekarang ? saat dikelola oleh PHR, ape tidak je yang didapat, tak sekeping pun saye dengo kabo anak – anak Riau mendapat berkah dari PHR. Nasiblah.

Yang jelas kantor procurement yang dulu biasenye terbukak memberi harapan, justru sekarang ditutup. Apakah ini semua bermaksud agar semuanya dikelola sama Jakarta ? Nasib – nasib, kempunan lah balek anak – anak Riau, nampaknya Indonesia ini yang punya hanya orang Jakarta yang bernafsu besar tapi tenaga kurang dan tak mau berbagi akibat Serakah !

Maka sebelum kita memasuki bulan Ramadhan, marilah kita merenung sejenak QS Ar-Rad ayat 11 bahwa Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Penulis : Syaed Lukman – Pembina Forum Aspirasi Negara Federal Indonesia

.


.

.

.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *