Connect with us

Headlines

Saatnya ” Intan Payung ” Ditertibkan

Published

on

Dok. Syaed Lukman - Pembina Forum Aspirasi Negara Federal Indonesia

.

Salah satu kata yang penuh makna dalam film Upin dan Ipin, adalah sebutan ” Intan Payung “ sebutan ini selalu disematkan untuk menyindir seorang anak yang selalu disayang dan dimanja oleh orang tuanya. Disisi lain sebutan ” anak singkong “ biasanya disematkan kepada seorang anak yang sudah terbiasa hidup sederhana, makan apa adanya, jauh dari kemewahan.

Bahkan Nabi Muhammad SAW lahir kedunia ini dalam keadaan yatim piatu ditempa oleh pahit dan getir nya hidup. Dalam konteks sebuah negara, kemampuan Iran hari ini bukan lah tercipta dan terbentuk secara tiba – tiba, melainkan buah dari dari puluhan tahun kesulitan hasil embargo politik dan ekonomi negara adikuasa.

Artinya istilah ” Pelaut tangguh tidak lahir dari laut yang tenang, melainkan dari laut yang penuh ombak dan badai. “ adalah fakta tak terbantahkan ! Ungkapan itu sebetulnya bermakna bahwa kekuatan dan keterampilan seorang pelaut terbentuk melalui pengalaman dalam menghadapi tantangan yang berat, dan bukan dari kemudahan.

Bagaimana dengan Indonesia ?

Pasca runtuhnya rezim Orde Baru, kebangkitan supremasi sipil membuat TNI kembali ke fitrahnya dan Dwi Fungsi ABRI yang penuh diskresi luar biasa itu kemudian jadi kenangan setidaknya untuk 1 generasi. Namun hari ini jabatan dan berbagai lini usaha yang dulunya diisi oleh profesional sipil semakin hari semakin tergerus dengan aura ” Kebangkitan dwi fungsi aparat ” 

Tak perlu lah kita sebutkan dosa – dosa itu secara detail, lahan mana aja yang sudah ” ditertibkan “ sehingga masyarakat sipil pun hari ini semakin terpinggirkan, istilah kawan yang protes dengan keadaan itu, bahkan ” bambu runcing ” pun akan mereka diberi label teroris atas nama keserakahan. 

Jika seandainya negara adidaya menoleh ke Indonesia sambil meneteskan air liur, Pertanyaannya, kita bisa apa ? 

Apakah teknologi alusista kita punya kemampuan menangkal serangan Bomber B2 ? yang dalam sekejap mata mampu dengan tepat mencabut nyawa Presiden Iran Ali Khomaini ? saran saya lebih baik majikannya Bobby ini tak usah lah membangga bangga kan mobil Maung yang katanya anti pelurunya itu, mending pelajari ilmu rawa rontek yang tak kan bisa mati meskipun terpisah kepala dari badan, hehehe.

Intan Payung ku Sayang

Begitulah kemampuan teknologi senjata pemusnah massal itu dipertontonkan hari ini. Lantas, bagaimana mungkin kita bisa yakin TNI mampu menjaga setiap jengkal tanah tumpah darah kita atau minimal setidaknya mampu memberikan rasa aman kepada rakyat Indonesia tanpa disertai embel – embel ” operasi air keras “ yang ketahuan belang kambingnya itu.

Apa dak lebih baik tuan – tuan pengelola negara yang digaji besar dengan berbagai fasilitas dan tunjangan itu bersinergi memperkuat teknologi alusista kita yang jauh tertinggal dengan berbagai upaya diplomasi kek, peningkatan SDM kek, apa kek, daripada sibuk membungkam kritikan rakyatnya sendiri melalui operasi senyap berlabel mawar berduri itu. Sudahlah !

Sekali lagi, selamat buat rakyat Iran menjadi contoh bagi negara muslim lainnya bahwa ” hidup mulia atau mati syahid “ adalah sebuah cita – cita yang musti ditanamkan didalam hati guna menghadapi kaum kufar yang serakah tak pernah kenyang itu.

Syaed Lukman – Pembina Forum Aspirasi Negara Federal Indonesia 

.

.


.

.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *