Connect with us

Headlines

Ketika Migas Riau Tidak Dimanfaatkan Sebesar Besarnya untuk Kemakmuran Rakyatnya 

Published

on

Dok. Syaed Lukman - Pembina Forum Aspirasi Negara Federal Indonesia

.

Nampaknya memang alam pun tak ridho disaat Riau yang kaya akan migas manfaatnya tidak lagi digunakan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyatnya. Maka, tak ada angin tak ada hujan tiba – tiba jum’at (02/01/26) pipa gas PT. Trans Gas Indonesia (TGI) di yang berada di Desa Batu Ampar, Kecamatan Kemuning Inhil pun meletup akibat ketamakan pusat yang dah melampau lampau.

Dari info yang saye terime beberapa hari setelah itu, Minas pun dikabarkan sempat ” Shutdown. ” Tentunya hal ini berdampak fatal atas penurunan produksi di wilayah kerja Blok Rokan, dan bukan hanya itu, hampir seluruh K3S yang ada di Riau ini terganggu dengan adanya kejadian ini. 

” Kenapa bisa terganggu ? karena pengiriman minyak beberapa perusahaan itukan ke PHR, jadi kalau PHR terganggu, perusahaan – perusahaan yang numpang mengalirkan minyak ke PHR pasti terganggu, ” sebut Profesor Alumni Sejong University yang kami jemput spesial dalam diskusi ini. 

Jika di estimasikan, APGWI 1.000 barel lebih per day Texcal Energy Mahato hampir 7.600.barel lebih per hari, SPR 500 barel per day. Bahkan dari informasi yang berhasil kami dapatkan, BSP Blok pun ikut berkurang jadi 6000 barel per day akibat kebutuhan solar untuk menghidupkan turbin cadangan yang membengkak hingga 1,8 miliar per hari.

Dan untuk membeli solar non subsidi tersebut berdasarkan info dari A1, dapat dipastikan BSP akan mengalami defisit berlipat ganda alias rugi besar dan nampaknya sengaja dibuat seperti itu, agar para drakula penghisap darah menikmati besarnya biaya operasional. Kate A1, ” dah pasrah dio melantak sampai perutnyo buncit. ” 

Balek ke Laptop, walaupun ada toll fee, tentunya PHR akan menyelamatkan dirinya dahulu baru yang lain, jadi gangguan ini sebetulnya cukup luas, bukan hanya kerugian negara, DBH Riau pun akan berdampak atas persoalan ini, Alhasil kate orang kampung saye, ” Kempunan lah balek orang Riau, nasib nasib. “

Diskusi pun semakin panas saat sumber – sumber informasi publik seolah bungkam terkait kejadian yang sudah berlangsung sekitar satu minggu ini, termasuk BUMD yang notabene mustinya membela daerahnya, senyap tak bebunyi, tah paham tah tidak yang jelas yang memberikan jabatan tu memang lah bebal betul. Termasuk SKK Migas.

Lebih lanjut disampaikan ” Totalnya bisa sampai jutaan barel minyak mentah yang seharusnya diproduksi Blok Rokan. Tinggal di-rupiahkan saja. Apalagi kabarnya belum normal hingga hari ini, ” ungkap sekretaris eksekutif CERI Hengki Seprihadi di Jakarta, dikutip dari bisnis.com jumat (09/01/26).

Akibat terhentinya pasokan gas pasca ledakan itu ke PLTG Duri North 300 MW ex MCTN, produksi minyak mentah di Blok Rokan anjlok hanya 30.000 barel per day. Padahal normalnya Blok Rokan menghasilkan 165.000 barel per day. 

Itu artinya PHR saja lost 135.000 barel per day, dan jika dikalikan harga minyak 70 USD maka hasilnya USD 9.450.000 dan jika dikalikan IDR 16.500 maka total kerugian per hari IDR 155.925.000.000 dan ini sudah berlangsung satu minggu. Itu baru Blok Rokan, blum yang lainnya, dan itu belum bicara soal biaya dan waktu pemulihan.

Diskusi pun semakin panas saat bau anyir kongkalikong bisnis migas yang terjadi di sejumlah perusahaan migas plat merah yang beroperasi di provinsi Riau justru terjadi disaat berbagai kasus kecelakaan kerja yang berujung kematian, kasus rig jatuh dan patah yang juga menimbulkan korban jiwa, kasus pipa minyak dan gas yang pecah, turbin rusak hingga pipa gas meledak. Saye pun teringat kata Pak Presiden, ” makanya jangan terlalu Serakah. “  

Disaat krisis energy adalah penyebab utama ketegangan geo politik yang mengarah ke Perang Dunia ke III, justru di Indonesia dengan kejadian ini nampak seperti dianggap enteng saja. Karena itu sayepun sedang mempertimbangkan untuk melaporkan hal ini ke Donald Trump yang baru saja menyelesaikan misinya dengan menangkap Presiden Venezuela hanya dalam hitungan jam. hehehe

Penulis : Syaed Lukman – Pembina Forum Aspirasi Negara Federal Indonesia

.


.

.

.