Headlines
Hidup dari Pajak, Hingga Godaan Pendapatan Judi dan Prostitusi

.
Sebagaimana sudah diprediksi sebelumnya bahwa dampak akibat tidak diperbolehkannya kapal Pertamina melintasi selat Hormuz mengakibatkan antrian panjang BBM mulai mengular disejumlah titik. Selangkah lagi harga harga pun merangkak naik, akibatnya masyarakat yang mayoritas sudah miskin, akhirnya akan memilih jalan pintas demi perut yang sudah mendendangkan lagu keroncong.
Sementara gaji ASN, TNI dan Polri, tunjangan, pensiun, semua hidup dari pajak negara, padahal idealnya pemerintah itu memaksimalkan sumber daya alam (SDA) guna mencapai tujuan bernegara agar rakyatnya hidup sejahtera, bukan sebaliknya dibebankan dari pajak rakyat, lantas kemana hasil SDA kita ?
Jawabannya SDA kita dikuasai oleh Oligarki ! Pertanyaannya, apakah SDA kita dipergunakan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat ? Negara hanya mendapatkan tetesan royalti dari para Oligarki yang nilainya tidak seberapa itu, dan kemudian mengemis pajak dan mengemis pinjaman, bukannya ini sebuah logika berpikir yang sesat ?!
Sepanjang Presiden masih bergantung dari pajak rakyat sebagai sumber pendapatan negara, maka dia hanya akan menjadi Presiden yang gagal. Sebagaimana Tan Malaka sudah menulisnya ditahun 1943 dalam karyanya berjudul Madilog bahwa masalah terbesar bangsa ini adalah cara berpikirnya.
Cobalah pikir, total tunggakan BPJS kesehatan Rp. 26,7 Triliun itu masih dibebankan dipundak rakyat. Sektor pendidikan apalagi, tengoklah infrastruktur sekolah di pinggiran, soal gaji guru, biaya pendidikan tinggi semakin mahal. Kapanlah kita mau berubah, baru ketika lapar berpikir keajaiban, ketika sadar hidup miskin sibuk nak mencari jimat, dan asik menunggu keberuntungan.
Sekejap lagi otak pengurus negara Kanoha ini akan berpikir bagaimana melegalkan Judi Online, sebab sepanjang tahun 2023 aja PPATK mencatat pemain judi di negara ini ada 4 juta orang dengan 168 juta transaksi dengan total akumulasi perputaran dana mencapai Rp 327 triliun sepanjang tahun 2023.
Sementara ASN sibuk berpikir jabatan dan bagaimana TPP tak dipotong, yang pengusaha sibuk berpikir bagaimana bisa dapat proyek tanpa tunda bayar, politisi sibuk berpikir bagaimana supaya duduk terpilih, yang dah duduk sibuk berpikir pencitraan hingga 3 periode, dan pucuk pimpinan nampaknya sibuk mengurus maling yang katanya sudah semakin pinter menggasak uang rakyat.
Lantas siapa yang berpikir bagaimana caranya membentuk sistem bernegara yang benar – benar berdaulat, berkeadilan, yang bisa membuat rakyat bisa hidup makmur sejahtera, cerdas tanpa penindasan ?
Dalam sebuah kajian subuh sayepun bermimpi, dimana palu dah nak di ketuk sama Ketua DPR guna mengesahkan UU untuk melegalkan judi dan prostitusi akibat negara dah terjerat hutang, dengan sepenggal ayat yang diterjemahkan oleh pak ustad.
“ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. “
Penulis : Syaed Lukman – Pembina Forum Aspirasi Negara Federal Indonesia
.

.

.

.





