Headlines
Pesan Siamang, Korban Kabut Asap Keserakahan Sentralistik

.
Semenjak penguasa rimba raya berkokok setiap menerima laporan, Akibatnya matapun kembali terpejam dalam sebuah tirai mimpi buruk mendengar jerit derita jutaan mahluk hidup ditengah krisis ekologis akibat kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera, Kalimantan hingga Papua.
“ Kalau macam gini tentulah tak lame lagi kite semuo akan punah ! seandainyo para binatang dan pohon -pohon tu bisa becakap tentulah sumpah serapah smuo mahluk yang ade didalam hutan tu menggema hingga Istana Negara, “ ujar seekor siamang dengan slang infus yang menempel ditangan tertatih tatih keluar dari sebalik pohon yang hangus berwarna hitam arang.
Dibalik asap pekat kabut keserakahan penguasa sentralistik yang mengemas seluruh kewenangan strategis dan potensi sumberdaya alam daerah dari Sabang sampai Merauke itu, dengan wajah angkuh seorang pejabat tinggi negara berkumis lebat diatas perut buncit yang sebentar lagi nak meletus itu berkata “ NKRI Harga Mati ! “
Disisi lain disebuah sudut kampung nampak sesosok kepala daerah dengan rambut kusut masai tengah mengais ngais tulang belulang sisa makanan penguasa sentralistik untuk dibagikan kepada penduduknya yang mayoritas bertubuh kurus kering dalam sebuah antrian panjang menunggu jatah solar yang tak berkesudahan.
Disudut lain nampak sejumlah petugas pajak dengan tangan memegang cambuk sambil menampung setiap tetes keringat rakyat yang diberi label seperti PPh, PPN, PBB, Pajak Kendaraan Bermotor, royalti tambang yang hasilnya nampak menumpuk dikantor – kantor pajak dengan gembok besar yang kuncinya dipegang oleh orang kepercayaan penguasa rimba raya.
Sayepun akhirnya tersentak dari sebuah lintasan mimpi setelah kemudian alm. Bung Hatta dengan setelan jas hitam putihnya menepuk bahu kanan saya setelah meneken kesepakatan bersejarah yang memberikan Kedaulatan kepada seluruh bangsa Indonesia dalam perjanjian meja bundar kemudian berkata, “ Daerah kaya, rakyatnya miskin. Itu bukan takdir, itu desain sistem sentralistik ! “ Nah.
Penulis : Syaed Lukman, Pembina Forum Aspirasi Negara Federal Indonesia
.

.

.






