Connect with us

Headlines

Bubarnya Indonesia Hanya Menunggu Waktu

Published

on

.

Masuknya 26 orang pilihan Prabowo sebagai Wantimpres termasuk Rocky Gerung untuk memperkuat barisan Kabinet Merah Putih belum tentu juga berdampak positif, malahan faktanya hal tersebut bertolak belakang dengan kebijakan efisiensi.

Dalam sebuah diskusi kecil, pengamat dunia persilatan mengungkapkan sebuah kenangan yang selalu di ungkapkan oleh alm. Prof. Dr. Tabrani Rab terkait perilaku yang sangat tidak baik untuk diamalkan, apa itu ? “ almubazirun na uhwanu syaiton ! yang dalam terjemahannya berarti mubazir itu temannya syaiton !

Disisi yang lain Bupati Siak dalam sebuah postingan Tiktok saat berada sebuah perkampungan tampak mengantar anak – anak pergi kesekolah dengan menggunakan truk lecah (kotor) akibat jalan tanah tak beraspal nampak sedih dah tak sanggup lagi menahan hingga berurai air mata.

“ Kalau memang nak ngambik kewenangan kami balikkan ! tak usah kalau tak percaya, tak apa apa, tapi tolong balikkan kesejahteraan itu kepada daerah penghasil seperti kami. Bagaimana mungkin sebegitu teganya DBH Migas kami dipotong sampai 70 % tahun depan, “ ungkap Afni saye kutip dari sebuah media.

Sayepun teringat sebuah film Box Office dimana para pendatang Eropa yang menginginkan tanah leluhur suku Indian yang merupakan penduduk asli Amerika ini, malah menjadi ancaman bagi suku Indian hingga pertempuran melawan para pendatang Eropa tersebut akhirnya tak terelakkan.

Inilah yang saya dah ingatkan berkali kali, karena sistem sentralistik justru menjadi faktor pemicu perpecahan karena melahirkan penindasan ! Sebab sebelum Indonesia merdeka, Kerajaan Siak Sri Indrapura dan berbagai Kerajaan Melayu lainnya sudah jauh terlebih dahulu berdaulat dan hidup sejahtera dibawah kendali para Sultan atas ridho Allah SWT.

Sayapun terkenang saat kecik bersama Sultan Syarif Kasim II menjelang akhir hayatnya, berbagai puak justru hidup rukun dan damai, bahkan suku Sakai yang saat itu masih hidup primitif tentram bersama alam, adat dan budaya tetap terjaga kelestariannya. Namun apa yang terjadi setelah pemerintahan NKRI berkuasa ? hutan luluh lantak, minyak pun disedot tanpa pandang bulu.

Belum lagi bicara soal pembantaian dan perampasan aset para Sultan di Sumatera Timur oleh PKI laknatullah yang konon atas restu penguasa Istana Negara waktu itu ! begitulah tertindasnya kami dengan berbagai skenario pusat, mulai dari peristiwa yang paling kejam hingga penindasan kesejahteraan yang diberi label ketidakadilan fiskal.

Kata sahabat saya, Indonesia itu mustinya bukan Jawa yang diperluas, melainkan menyatu dari berbagai Kerajaan dan suku bangsa yang merdeka dan berdaulat, maka doktrin Bhinneka Tunggal Ika jauh lebih tepat dan berkeadilan jika Indonesia menganut sistem negara federal.

Ketakutan sejumlah pihak dengan narasi bahwa sistem federal berpotensi memecah Indonesia, justru patut dicurigai motivasinya berlindung dibalik kekuasaan absolut untuk mendapatkan sejumlah keuntungan yang selama ini terjadi. Meminjam istilah Rocky Gerung, apakah patut mereka yang tidak ingin Bangsanya hidup sejahtera ini kita sebut “ Dungu ? “

Diakhir sambungan telfonnya pengamat dunia persilatan menggaris bawahi bahwa upaya menjadikan Indonesia sebagai negara Federal adalah bentuk koreksi terhadap pembelokan sejarah yang selama 81 tahun tidak berkeadilan, dan kembali saya ingatkan bahwa jauh hari para pendiri bangsa sebagaimana peristiwa bersejarah Konferensi Meja Bundar sudah sepakat bahwa Indonesia adalah negara Federal.

Saatnya Riau memimpin diskursus menuju Negara Federal Indonesia yang adil dan bermartabat !

Penulis : Syaed Lukman, Pembina Forum Aspirasi Negara Federal Indonesia

.


.

.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *