Connect with us

Headlines

Skandal Kerupuk Lado Terpanjang Didunia

Published

on

Dok. Syaed Lukman - Pembina Forum Aspirasi Negara Federal Indonesia

.

Nampaknya kisah keterlibatan petinggi penegak hukum dalam berbagai mega skandal korupsi sebagaimana dikisahkan dalam film The Godfather mulai terbongkar dilingkar penikmat sistem sentralistik, setelah tim Kortastipidkor Polri dan Polda Metro Jaya serentak menggeledah di delapan lokasi termasuk Cafe de’Clan Signature Cipete.

Dalam aksi penggeledahan tersebut berhasil ditemukan Emas Batangan, uang dolar dan rupiah yang kalau dikonversi menjadi Kerupuk Lado diperkirakan akan membentang dari Sabang sampai Merauke, sehingga sangat pantas direkomendasikan untuk mendapatkan Guiness Book World of Record sebagai Kerupuk Lado terpanjang di dunia.. hehehe

Kembali ke laptop, disejumlah pemberitaan nama FA bukan pertama kalinya dikaitkan dengan Cafe de’Clan Signature, tempat yang sebelumnya bernama Gontran Cherrier itu disebut – sebut pernah menjadi lokasi peristiwa penguntitan oleh anggota Densus 88 pada Mei 2024, dimana FA disebut kerap sarapan pagi disitu.

Dalam sambungan selulernya pengamat dunia persilatan mengungkapkan, bahwa skandal itu merupakan balas dendam terkait pengungkapan skandal mega korupsi MBG yang juga menyeret Jenderal Polisi aktif sebagai tersangka dengan nilai kerugian negara disebut mencapai miliaran rupiah disetiap harinya. Belum lagi soal speda motor listrik yang saat ini masih tersadai menyanyikan lagu India itu.

Baca : Jampidsus Akui Rumah di Sentul TKP Brankas Isi 74 Kg Emas dan Rp 282,4 Miliar Miliknya

Padahal jauh hari ICW udah mengingatkan Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK untuk melakukan monitoring, pemantauan, serta kajian terhadap skema pengelolaan 1.179 Dapur MBG yang terafiliasi milik Polri. Alhasil skenario film penegakan hukum penguasa gedung merah putih justru dinilai netizen lebih tajam ke APBD dibanding skandal korupsi yang menggerogoti APBN.

Selamat datang babak baru Indonesia Gawat Darurat Korupsi, dimana hampir tak ada penguasa Institusi Pemerintah yang dapat dipercaya menjalankan amanah, semuanya melukai hati rakyat yang hampir 70 % kere setelah 80 tahun Indonesia yang katanya sudah merdeka ini. Miris !

Kisah suap menyuap dilingkar pucuk pimpinan penegak hukum hingga keterlibatan politisi kotor dalam melindungi operasi kriminal serta memastikan pengaruh keluarga Don Corleone yang kebal hukum dalam film The Godfather, nampaknya akan segera diputar dibioskop – bioskop kesayangan anda.

Sementara itu pengamat dunia persilatan juga mengungkapkan, bahwa film mafia yang akan segera tayang ini semakin seru disaat pucuk pimpinan aparat penegak hukum saling sandera diantara kekuasaan 2 matahari. Sementara disisi lain upaya pengendalian hukum oleh tangan – tangan kotor mulai tersingkap dibalik meja negosiasi.

Baca : 12 Kasus Megakorupsi yang Ditangani Jampidsus Febrie: MBG, Jiwasraya, hingga Nadiem

Karena itu, pergeseran isu dibalik kisah pengawalan rumah Jampidsus yang disebut – sebut sedang menangani 12 perkara strategis dengan kerugian negara bernilai fantastis oleh TNI tersebut, terkesan seperti melindungi koruptor. Sementara disudut lain berbagai elemen masyarakat bahu – membahu mewujudkan jembatan yang terputus akibat bencana ekologis ditengah berbagai pajak yang dibebankan dipundak rakyat guna memenuhi hasrat penguasa.

Kehancuran sistem sentralistik dengan berbagai mega skandal korupsi, lagi – lagi meluluh lantakkan reputasi Indonesia ke titik nadir terendah sejajar dengan negara – negara terkorup di dunia, dimana perangkat hukum justru menjadi alat untuk melindungi para perampok, dan kita (rakyat) lagi – lagi menjadi pihak yang paling dirugikan.

Pertanyaannya, apakah Presiden Prabowo benar – benar berniat tulus membenahi Indonesia yang saat ini berlayar menuju jurang Negara gagal ? Jika benar segeralah bertobat, hentikan keserakahan ini, segera perbaiki sistemnya dengan cara amandemen UUD 1945 menuju sistem Negara Federal dalam lingkup Negara Kesatuan Indonesia.

Penulis : Syaed Lukman, Pembina Forum Aspirasi Negara Federal Indonesia

.

.

.