Headlines
Sumber Daya Alam Daerah Dirampok ! Pajak Mencekik ! Kemiskinan Merajalela

.
Dalam keluh kesah dan diskusi kecil bersama sahabat saya rektor antar bangsa mengenai perjuangan mewujudkan sistem negara Federal dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dimana kerusakan sentralistik yang sistemik ini mulai masif dan menindas ummat.
Saat berbagai sektor mulai terlihat loreng, maka menyelesaikannya bukan lagi seperti mengambil rambut dari tepung, tapi se umpama memisahkan disprosium (Dy) dan praseodimium (Pr), sebab ukuran atom, ion dan electronnya yang ada dalam benda tu terlihat sangat mirip termasuk dari segi zatnya ungkap pak rektor.
Contoh kasus soal kejahatan ekonomi pusat yang tak pernah kenyang merampok sumberdaya alam didaerah. Masih kurang apa lagi ? Saat ini mereka kembali mencekik dengan menaikkan pajak sebesar 22 %, seolah menganggap orang dari Sabang sampai Merauke ini bodoh semua. Inilah yang namanya neo kolonialisme, mereka ini menindas, memeras dengan cara – cara yang dilegalkan dengan mengatas namakan bangsa dan negara.
Sementara disudut sudut desa masih banyak sekolah yang tak lagi layak difungsikan, kehidupan guru – guru sangat memprihatinkan, jumlah anak putus sekolah semakin menganga hingga berdasarkan data world bank yang saya yakini lebih realistis, saat ini jumlah penduduk miskin Indonesia terjun bebas selevel dengan negara – negara miskin dunia lainnya.
Pertanyaannya, setelah 80 tahun sistem sentralistik digunakan apa seperti ini cita – cita konstitusi kita ? apa gunanya mereka yang katanya mewakili rakyat yang bersemayam di gedung kura – kura itu ? lebih banyak mudharat apa manfaat ? mau sampai kapan Sistem Sentralistik ini dipertahankan ?
Baca : 68 Persen Tanah dan Kekayaan Indonesia Dikuasai Satu Persen Kelompok
Saya pun teringat pernyataan Prof. Syafii Ma’arif mantan Ketua PP Muhammadiyah, ketika ditanya, bagaimana kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara pada saat itu, maka dia menjawab, kalaulah manusia boleh berputus asa, maka saya lah orang pertama yang putus asa melihat nasib kita hari ini. Sayangnya dalam agama, kita dilarang berputus asa.
Seandainya Abdurrahman al-Dakhil putus asa ketika bani Umayyah di Damaskus luluh lantak dibuat Bani Abbasiyah, maka tentu tidak akan ada Islam di Eropa dan Spanyol tidak akan tunduk kepada Islam di tahun 756.
Contoh lain jika kita berandai – andai demi kebaikan dikemudian hari, maka seandainya Muhammad Al-Fatih berputus asa, tentu Konstantinopel di Turki tidak akan menjadi milik umat Islam pada 29 mei 1453.
Dan seandainya Sukarno, Hatta, Syahrir, Ahmad Subarjo, Agussalim dan para pejuang kemerdekaan lainnya berputus asa, maka entah ada tah tidak Indonesia hari ini.
Bukankah yang Maha Kuasa menyuruh kita bekerja yang ikhlas, cerdas dan tuntas, soal hasil itu urusan Allah. Sebab, kalaulah bukan karena kakek kita yang menanam pohon durian puluhan tahun yang lalu, kita tidak akan pernah memakan buahnya hari ini.
Maka sejarah membuktikan, marilah kita menanam pohon durian, bersama kita ubah kondisi keterpurukan bangsa ini menjadi lebih baik bersama sistem Negara Federal dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia guna mewujudkan cita – cita konstitusi yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.
Penulis : Syaed Lukman, Pembina Forum Aspirasi Negara Federal Indonesia
.

.

.

.





